Archive

Archive for July, 2008

Investigative Reporting

Investigative Reporting

“Orang sering menuduh kami menjatuhkan seorang presiden, yang tentu saja tidak kami lakukan dan tidak boleh dilakukan. Proses yang mengakibatkan pengunduran diri Nixon adalah konstitusi,” ungkap Katherine Graham, penerbit The Washington Post.

Richard Nixon sudah tiada pada 1994 lalu, di saat usianya 81 tahun. Dia mundur dari jabatan Presiden AS (1974) karena dituduh sebagai salah seorang komplotan dalam skandal Watergate, sebuah aksi pembobolan kantor Partai Demokrat di Kompleks Watergate. Tindak kriminal bermodus politik ini, dilaporkan dan dibuka habis rahasia skandalnya selama 26 bulan oleh The Washington Post. Ditulis menjadi ratusan laporan oleh Carl Bernstein dan Bob Woodward, dua wartawan Desk Kota, yang saat itu masih ‘mentah’ berusia 20 tahun.

Laporan Watergate mengantarkan keduanya meraih hadiah Pulitzer kategori layanan masyarakat. Dan, pelat cetak headline yang mengumumkan pengunduran diri Nixon, kini tergantung pada ruang rapat. Dimana, setiap hari editor saling bertemu dan terus memberi inspirasi pada mereka yang bekerja di The Washington Post. Pada 1975, kedua wartawan tersebut diperankan Robert Redford dan Dustin Hoffman dalam All The President’s Men, sebuah film yang mengilhami generasi reporter.

Bernstein dan Woodward memulai laporannya dari detil yang paling kecil. Sering keduanya bertengkar namun tidak serius, dan ditengahi Benjamin Bradlee, Eksekutif Editor -kini salah satu pimpinan The Washington Post-, yang dengan ketat melakukan penyuntingan tulisan. Satu demi satu narasumber ditelusuri, dari John Dean -pembantu teras Nixon- sampai John Mitchell, Jaksa Agung dalam pemerintahan Nixon. Dari Charles Colson, pengacara Nixon sampai Hillary Clinton, pengacara anggota House of Representatives Partai Demokrat.

Independensi kedua wartawan itu, memperoleh kepercayaan dari satu sumber kunci. Dia adalah Deep Throat, sebuah anonim untuk melindungi identitas sumbernya. Dia sering disebut sebagai rahasia yang paling tertutup rapat dalam jurnalisme dan politik Amerika. Hanya empat orang di planet ini yang mengetahui nama sebenarnya; Woodward dan Bernstein, Benjamin Bradlee dan tentunya Deep Throat sendiri. Nama Deep Throat diberikan oleh redaktur Howard Simons, diambil dari judul film porno populer waktu itu.

“Sejak 1972, saya berjanji padanya untuk tidak mengungkapkan identitas dirinya. Selama dia masih hidup atau sampai dia membebaskan saya dari perjanjian kerahasiaan ini. Sampai hari ini saya tetap berhubungan dengan dia,” ungkap Woodward.
Deep Throat memiliki akses informasi dari Gedung Putih, FBI, sampai CRP (Komite Pemilihan Kembali Presiden). Hingga, publik Amerika mulai mereka-reka identitas Deep Throat. Orang yang sering disebut adalah William Colby, Direktur CIA, kini sudah meninggal, tetapi Woodward menyebut Deep Throat masih hidup. Nama lain yang dicurigai adalah Jenderal Alexander Haig -Kepala Staf Gedung Putih-, Diane Sawyer –Asisten Pers Gedung Putih dan Leonard Garment, Pengacara Kepresidenan. Namun, semuanya membantah. Nampaknya Deep Throat memilih untuk tidak menerima pujian secara terbuka atas keberaniannya. Untuk informasi yang membuka keterlibatan seorang presiden dalam sebuah skandal.

***

Istilah investigasi muncul pertama kali saat Nellie Bly jadi reporter Pittsburgh Dispatch pada 1890. Bly membuat laporan mengenai kehidupan orang-orang biasa, orang kelas bawah dalam kesehari-harian. Tapi, Bly melakukannya dengan cara tak biasa. Bly sengaja bekerja di sebuah pabrik di Pittsburgh untuk menyelidiki kehidupan buruh anak yang mencari nafkah dalam kondisi buruk. Buntutnya, Bly berhadapan dengan sebuah institusi yang sering memasang iklan pada koran tempatnya bekerja. Institusi itu mengancam memutuskan kontrak iklan dengan Pittsburgh Dispatch. Nellie Bly terpaksa dikorbankan. Dia kehilangan pekerjaan.

Tapi Bly bukanlah orang yang mudah menyerah. Dia tak surut oleh struktur industri yang menganggap media cuma salah satu sekrup roda kapitalisme. Upayanya membuahkan hasil. Nellie Bly direkrut Joseph Pulitzer, penerbit harian The New York World. Sejak itu pula Bly tambah melesak ke dalam persoalan kaum pekerja di wilayah-wilayah kumuh. Laporan investigasinya mendorong terjadinya perubahan terhadap standar hidup para pekerja kelas bawah itu.Ketekunan Nellie Bly mengilhami jurnalisme Amerika. Banyak kalangan media tertarik melakukan garapan-garapan investigasi.

Pada 1902 pola kerja Bly diadopsi oleh majalah-majalah Mc Clure’s, Collier’s, Munsey’s, Saturday Evening Post, dan The Arena. Masyarakat antusias menyambut pemunculan mereka. Keberhasilan itu membuka ruang-ruang lain. Menurut Donald L. Ferguson dan Jim Patten, dalam Journalism Today, berbagai media yang muncul pada akhir abad XIX dan awal abad XX ini, jadi semacam pejuang keadilan sosial ketika banyak suratkabar Amerika justru terpengaruh jurnalisme kuning yang sensasional. Sejak saat itu pula investigasi jadi bagian resmi dari usaha penerbitan. Sirkulasi 10 majalah yang bergerak dalam liputan ini, misalnya, mencatat jumlah tiga juta eksemplar pada 1906. Asosiasi para penulis dan penerbit yang berkecimpung dalam jurnalisme ini pun lahir. Di dalamnya tercantum sejumlah nama besar: Frank Norris, Ida M. Tarbell, Charles Edward Russell, Lincoln Steffens, David Graham Phillips, C. P. Connolly, Benjamin Hampton, Upton Sinclair, Thomas Lawson, Alfred Henry Lewis, dan Ray Stannard Baker.

Reportase investigasi tambah populer saat para wartawan berhasil mempengaruhi parlemen dalam pengesahan undang-undang seperti Pure Food and Drugs Act (1906) dan Meat Inspection Act (1906) di masa pemerintahan Presiden Theodore Roosevelt. Salah seorang wartawan legendaris era ini Ida M. Tarbell. Dia sering menulis buat majalah Mc Clure’s.

“Para wartawan investigasi berhutang budi pada Ida M. Tarbell,” kata Steve Weinberg dalam biografi Ida Tarbell, Patront Saint.

Liputan Tarbell, tentang skandal perusahaan minyak Standard Oil, yang dipimpin industriawan John D. Rockefeller, seperti membuka mata masyarakat Amerika yang telah lama mencium keburukan perusahaan raksasa itu. The History of the Standard Oil Company, yang ditulis Tarbell, menjawab keingintahuan masyarakat dan menjadi laporan investigasi yang legendaris. Tarbell lahir di pedalaman Pennsylvania pada 1857. Ia berusia 43 tahun ketika memulai risetnya tentang Standard Oil. Ia mempelajari ratusan dokumen yang terpencar-pencar di beberapa negara bagian, lalu menyempurnakannya dengan wawancara berbagai pemimpin dan pemilik perusahaan, para pesaing mereka, anggota parlemen, birokrat, ahli hukum, dan kalangan akademis.

Kelebihan Tarbell, menurut Weinberg, terletak pada metode investigasinya. Tarbell tak sekadar memakai pendekatan wartawan biasa, yang mengandalkan wawancara, riset kecil, atau observasi lewat penyamaran, tapi juga menggunakan paper trail atau pelacakan dokumen seperti transkrip dengar pendapat dalam parlemen, berkas-berkas pengadilan, surat perjanjian, dan sertifikat tanah. Tarbell meletakkan dasar bahwa investigasi yang terbaik lewat dokumen-dokumen penting. Dampak investigasinya dahsyat. Tarbell meruntuhkan reputasi John D. Rockefeller, salah seorang konglomerat Amerika yang sangat berkuasa, yang dikenal agresif tapi juga bereputasi sebagai seorang Kristen saleh. Tantangan yang tidak main-main. Tapi Tarbell punya bukti-bukti kuat, sehingga Presiden Theodore Roosevelt terdorong membuat peraturan untuk mencegah kompetisi tak sehat, khususnya terhadap perusahaan kecil. Tak berapa lama pengadilan Amerika pun menghukum Standard Oil dengan memaksanya memecah diri jadi beberapa perusahaan.

Tujuh dekade setelah Ida Tarbell, muncul sosok reporter yang sepak terjangnya mirip Tarbell. Namanya, Jeft Gerth dari harian The New York Times. Gerth seorang pria berusia 56, botak, dan mengerut seperti burung hantu. Orangnya sangat low profile. Dia dikenal lantaran berkemampuan di bidang akuntansi (bersertifikat), suka bekerja dalam diam. Menurut Ted Gup dari harian The Washington Post, yang menulis buat majalah Columbia Journalism Review, Gerth tak kenal lelah dalam seperempat abad kariernya, menggonjang-ganjing Gedung Putih, parlemen, dan perusahaan-perusahaan besar Amerika. Dia mempengaruhi kebijakan dan debat nasional tentang berbagai isu. Laporan-laporannya membuat banyak wartawan iri.

Gerth pula yang memperkenalkan jutawan Saudi Arabia Osama bin Laden pertama kalinya ke masyarakat dunia. Gerth mengungkap skandal Whitewater yang menampilkan Hillary Clinton dan hubungannya dengan regulasi industri di Arkansas ketika suaminya Bill Clinton menjabat gubernur Arkansas. Gerth dua tahun lalu juga meraih hadiah Pulitzer untuk liputan tentang perusahaan-perusahaan Amerika yang memberikan akses teknologi satelit pada negara Cina.

“Dalam banyak laporan itu, saya tidak mengerjakannya untuk sesuatu yang kontroversial,” ujar Gerth.

***

Di Asia, Filipina adalah negara kali pertama yang memiliki organisasi semacam Philippines Center for Investigative Journalism (PCIJ). Lembaga ini didirikan oleh sekelompok wartawan muda pada tahun 1989 sesaat setelah diktator Ferdinand Marcos melarikan diri dari Filipina. Dan November 1998 di Cambridge, Amerika Serikat, diadakan pertemuan perdana dari International Consortium of Investigative Journalists yang memberikan penghargaan buat wartawan-wartawan dari seluruh dunia yang berkarya dengan baik di bidang investigasi. Untuk pertama kali penghargaan ini diberikan kepada Nate Thayer dari mingguan Far Eastern Economic Review yang berpangkalan di Hongkong atas jerih-payah dan prestasi Thayer dalam mewawancarai pemimpin Khmer Merah Pol Pot. Thayer harus mondar-mandir antara Bangkok, Phnom Penh dan hutan-hutan perbatasan Thailand-Kamboja untuk mengejar sumber-sumbernya di kalangan Khmer Merah.

Di Indonesia sendiri kurang jelas mulai kapan istilah liputan investigasi mulai menjadi populer. Namun setidaknya ada beberapa majalah yang secara eksplisit pada tahun 1990-an menggunakan kata “investigasi” dalam liputan mereka. Dwi-mingguan TAJUK yang didirikan tahun 1996 memposisikan dirinya sebagai majalah “berita, investigasi dan entertainmen”. Majalah TEMPO juga menambahkan satu rubrik “Investigasi” ketika terbit kembali 6 Oktober 1998. Namun investigasi yang mungkin paling terkenal di Indonesia adalah liputan harian Indonesia Raya atas kasus korupsi di Pertamina dan Badan Logistik antara 1969 dan 1972. Harian itu melaporkan dugaan korupsi besar-besaran di Pertamina dengan memanfaatkan sumber-sumber dari dalam perusahaan negara tersebut. Pertamina maupun pemerintahan Presiden Suharto menolak adanya korupsi. Walaupun Indonesia Raya saat itu terkesan agak crusading dalam liputannya namun beberapa tahun kemudian terbukti bahwa Pertamina memang penuh dengan korupsi hingga hampir membangkrutkan pemerintahan Suharto.

Dalam lima tahun terakhir ini, liputan investigasi skala internasional yang dilakukan oleh wartawan Indonesia adalah investigasi tentang skandal emas Busang yang dibuat oleh wartawan freelance Bondan Winarno. Ia melanglang buana, pergi ke Calgary dan Toronto di Kanada, Manila di Filipina serta hutan rimba Busang di Kalimantan untuk menelusuri investigasinya. Bondan juga menelusuri berbagai dokumen tentang pertambangan mineral dan cara-cara untuk “meracuni” mata bor dengan “emas luar” sedemikian rupa sehingga dibuat kesimpulan ada cebakan emas yang luar biasa besarnya di bawah permukaan hutan Busang. Intinya Bondan menganggap Michael de Guzman, geolog senior Bre-X, “meracuni” sample hasil pemboran mereka dan melakukan kejahatan canggih untuk memperkaya diri mereka. Bondan secara mengejutkan juga memperkirakan bahwa de Guzman masih hidup, tidak mati bunuh diri seperti diberitakan. Bondan melaporkan bahwa mayat yang ditemukan di tengah hutan Busang itu tidak memiliki gigi palsu di rahang atasnya seperti yang dimiliki de Guzman. Geolog Filipina ini juga mempunyai gaya hidup mewah, suka berfoya-foya, main perempuan, yang tidak cocok dengan tipe orang yang memiliki kecenderungan untuk melakukan bunuh diri. Aneh juga bahwa de Gusman tidak duduk di samping pilot helikopter namun di belakang. Bondan mewawancarai dua orang dokter yang melakukan autopsi terhadap jasad tersebut serta seorang dari empat isteri de Guzman.

Dari gambaran sekilas atas pekerjaan Bondan maupun Nate Thayer sudah bisa kita ketahui bahwa investigative reporting memang lebih berat dari rata-rata pekerjaan jurnalisme sehari-hari. Bondan butuh waktu dua bulan penuh untuk mengerjakan investigasinya. Thayer bahkan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyakinkan Khmer Merah bahwa ia layak untuk mewawancarai Pol Pot.

***

“Is every journalist an investigatif journalist ?”

“Apakah semua wartawan menjalankan fungsi investigasi?”

Jawabnya; bisa ya bisa tidak. Sebagian mengatakan bahwa setiap wartawan juga seorang investigator. Namun ada yang mengatakan tidak setiap wartawan melakukan investigasi. Ada juga yang berpendapat setiap wartawan seharusnya menjadi seorang investigator. Ada lagi yang mengatakan bahwa setiap wartawan harus bisa menjadi seorang investigator. Sebagian wartawan juga mengatakan bahwa investigasi adalah pekerjaan jurnalisme yang dikaitkan dengan upaya membongkar apa-apa yang dirahasiakan.

“Apakah membongkar skandal seorang manajer dengan sekretarisnya juga dikategorikan investigasi?”

Definisi tentang investigative reporting, oleh Veven SP Wardhana, seorang pengamat media, disepakati sebagai suatu reportase yang dilakukan wartawan atau sekelompok wartawan mengenai masalah yang menyangkut kepentingan dan penting untuk diketahui masyarakat umum tetapi ingin ditutupi oleh satu pihak. Jadi unsur utama bagi suatu investigative reporting adalah adanya ketidakberesan, pelanggaran atau penyelewengan yang menyangkut kepentingan umum yang pada akhirnya merugikan masyarakat. Seperti, manipulasi, korupsi dan nepotisme

Sedangkan Andreas Harsono dari majalah PANTAU, menilai investigative reporting sebagi jenis reportase yang berhasil menunjukkan siapa yang salah, siapa yang melakukan pelanggaran hukum, yang seharusnya jadi terdakwa, dalam suatu kejahatan publik yang sebelumnya dirahasiakan. Sayangnya, di Amerika Serikat, -juga di Indonesia-, label investigasi sering dijadikan barang dagangan dengan seenaknya mengatakan mereka melakukan investigasi. Susahnya, para pendengar, pemirsa, dan pembaca juga tak tahu apa investigasi itu.

Goenawan Mohamad dari majalah TEMPO menyebut investigative reporting sebagai jurnalisme “membongkar kejahatan.” Ada suatu kejahatan yang biasanya ditutup-tutupi. Wartawan yang baik akan mencoba mempelajari dokumen-dokumen bersangkutan dan membongkar keberadaan tindak kejahatan di belakangnya. Namun pemahaman ini perlu dibedakan antara investigasi yang dikerjakan oleh seorang wartawan atau sebuah tim wartawan dengan liputan media atas hasil investigasi pihak lain. Ketika mingguan Panji Masyarakat memuat rekaman pembicaraan antara Presiden B.J. Habibie and Jaksa Agung Andi M. Ghalib pada pertengahan Februari 1999, banyak pengamat media yang mengatakan bahwa itulah investigative reporting. Ahli hukum media Abdul Muis dari Universitas Hasanuddin mengatakan secara etis Panji tidak bisa disalahkan karena pemuatan itu bagian dari investigative reporting. Muis mengatakan bahwa Panji melakukan investigasi. Terlepas dari keberanian Panji dalam menurunkan pembicaraan itu dengan pertimbangan adanya public interest dalam perbincangan tersebut, Prof. Muis lupa bahwa rekaman tersebut bukan dikerjakan Panji sendiri. Yang melakukan investigas bukan Panji karena majalah itu hanya mendapatkan kaset rekamannya saja. Bukan menyadap pembicaraan telpon itu sendiri.

Robert Greene dari Newsday –beberapa kali disebut sebagai “Bapak Jurnalisme Investigasi Modern”– membatasi liputan investigasi sebagai karya seorang atau beberapa wartawan atas suatu hal yang penting buat kepentingan masyarakat namun dirahasiakan oleh mereka yang terlibat.

“Liputan investigasi ini minimal memiliki tiga elemen dasar: bahwa liputan itu adalah ide orisinil dari wartawan, bukan hasil investigasi pihak lain yang ditindaklanjuti oleh media; bahwa subyek investigasi merupakan kepentingan bersama yang cukup masuk akal untuk mempengaruhi kehidupan sosial mayoritas pembaca suratkabar atau pemirsa televisi bersangkutan; bahwa ada pihak-pihak yang mencoba menyembunyikan kejahatan ini dari hadapan publik “

Definisi dan batasan ini dibuat untuk bisa membedakan dengan bentuk laporan in-depht reporting yang seringkali disamakan dengan Investigative reporting. Istilah in-depth reporting memang lebih dikenal kalangan media ketimbang Investigative reporting. Istilah ini terdengar lunak bagi kekuasaan, karena tidak menyiratkan kegiatan membongkar aib, kesalahan, atau kelemahan pemerintah. Terkesan sebagai pencarian data dan keterangan belaka. Menurut Veven, in-depht reporting merupakan suatu laporan yang mendalam tentang suatu obyek yang biasanya juga mengenai kepentingan khalayak dan layak diketahui umum. Reportasi dilakukan untuk menggali segala data agar bisa disajikan dengan jelas dan rinci agar masyarakat bisa benar-benar memahami obyek tersebut.

Salah satu hal yang banyak membedakan antara in-depth reporting dan investigative reporting adalah ada atau tidaknya hipotesis dalam proses reportase. Dalam batasan tertentu investigative reporting adalah fase kelanjutan dari in-depth reporting. Dalam melakukan in-depth reporting seorang wartawan bisa berangkat praktis dari nol atau dari sekedar membaca kliping-kliping koran. Ketika wartawan itu sudah jauh lebih banyak mengetahui duduk persoalan sebenarnya –setelah melakukan banyak wawancara, membaca tumpukan dokumen serta mendatangi tempat-tempat yang berhubungan dengan liputannya– saat itulah ia pada titik hendak melakukan kegiatan lanjutan atau tidak. Liputan lanjutan inilah yang lebih bersifat investigatif. Membongkar kejahatan. Mencari tokoh-tokoh jahat dan merekonstruksi kejahatan-kejahatan mereka. Hipotesis sangatlah penting untuk membentuk wartawan memfokuskan dirinya dalam suatu investigasi.

***

Investigative Reporting dimulai dari asumsi atau anggapan bahwa ada something is wrong, that some one has done something wrong. Direktur PCIJ Sheila Coronel secara singkat membagi proses investigasi ke dalam dua kali tujuh bagian. Pembagian ini untuk mempermudah seorang investigator dalam mengatur sistematika pekerjaannya. Bagian pertama merupakan bagian penjajakan dan pekerjaan dasar. Sedangkan bagian kedua sudah berupa penajaman dan penyelesaian investigasi:

Bagian Pertama

1. Petunjuk awal (first lead), Bisa berupa apa saja; berita pendek di suratkabar, sebuah surat kaleng yang menunjuk adanya ketidakberesan dalam suatu lembaga tertentu, atau telpon dari seseorang tak dikenal. Atau suatu peristiwa besar yang sudah banyak diberitakan media massa namun masih menyimpan teka-teki yang kelihatannya menarik untuk dikejar. Teka-teki ini akan menarik kalau ditemukan sumber penting yang bisa membuka ke arah terbongkarnya teka-teki tersebut.

2. Investigasi pendahuluan (initial investigation), berupa penggalian data lebih jauh, wawancara maupun peninjauan lapangan.

3. Pembentukan hipotesis (forming an investigative hypothesis)

4. Pencarian dan pendalaman literatur (literature search)

5. Wawancara para pakar dan sumber-sumber ahli (interviewing experts)

6. Penjejakan dokumen-dokumen (finding a paper trail), karena di sanalah biasanya ketentuan-ketentuan yang mengikat bisa dijadikan barang bukti. Dokumen juga bisa dipakai untuk mempertentangkan pernyataan-pernyataan nara sumber yang berbohong. Di Indonesia banyak sekali pejabat atau pemimpin perusahaan yang setengahnya “berbohong” dengan cara menjawab pertanyaan wartawan secara diplomatis atau bahkan dengan memutar-balikkan logika. Keberadaan dokumen tertulis dengan mudah akan membantah semua kebohongan

7. Wawancara sumber-sumber kunci dan saksi-saksi (interviewing key informants and sources). Pekerjaan ini seringkali makan waktu lama karena jarak maupun waktu. Orang-orang kunci tidak harus orang-orang dengan jabatan tinggi. Seorang tukang perahu dekat Samarinda bisa menjadi sumber penting dalam investigasi Bre-X untuk membuktikan bahwa “peracunan emas” tidak dilakukan di gudang Loa Duri (seperti dilaporkan Asian Wall Street Journal). Atau seorang isteri yang bisa menegaskan bahwa suaminya memiliki gigi palsu di rahang atas. Memang sumber-sumber kunci dalam Bre-X juga termasuk John Felderhof, geolog senior yang juga atasan Michael de Guzman, namun yang seringkali terjadi orang-orang macam ini keberatan untuk bicara dengan wartawan.

Bagian Kedua

1. Pengamatan langsung di lapangan (first hand observation), dilakukan dengan berbekal peta geografis dari lokasi di mana investigasi dipusatkan. Wartawan seringkali melupakan tinjauan dari aspek geografis. Padahal banyak keputusan militer maupun dagang yang dibuat berdasarkan pertimbangan geografis. Ahli penginderaan jarak jauh Christopher Simpson dari American University berpendapat bahwa 80 persen keputusan bisnis maupun dagang ditentukan oleh pertimbangan geografis

2. Pengorganisasian file (organizing files) untuk mempermudah menganalisai dan mencari benang merah atau pola dari berbagai data temuannya.

3. Wawancara lebih lanjut (more interviews)

4. Analisa dan pengorganisasian data (analyzing and organizing data)

5. Penulisan (writing) teknik tersendiri yang tentu tidak meninggalkan teknik pembuatan angle, focus dan outline. Data yang sedemikian banyaknya tentu memerlukan seleksi yang ketat untuk memilih mana yang perlu dan mana yang kurang perlu.

6. Pengecekan fakta (fact checking), hal ini sangat penting walau banyak diremehkan wartawan. Banyak sekali kesalahan yang kelihatannya remeh namun bisa merusak penilaian orang akan laporan tertentu. Nama orang, tanggal kejadian, hubungan darah antar satu sumber dengan yang lain, jumlah anak, nilai transaksi dan sejuta data lain, harus disisir satu demi satu agar semua data akurat

7. Pengecekan pencemaran nama baik (libel check) Dalam jaman di mana kebebasan pers makin terbuka, ancaman seringkali datang dari tuntutan dengan dasar pencemaran nama baik (libel check). Bondan pernah digugat pencemaran nama baik masing-masing Rp 1 triliun oleh mantan menteri pertambangan Ida Bagus Sudjana dan putranya Dharma Yoga Sudjana. Hingga kini kasus itu masih ada dalam proses hukum. Kedua belah pihak tidak mau mundur atau melakukan penyelesaian di luar hukum. Bondan harus membayar pengacara untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah. Namun ongkos pengacara tidak murah bukan? Bahkan menurut Bondan, biaya untuk melalang buana ke Kanada dan Filipina masih lebih murah dibanding biaya yang sudah dikeluarkannya untuk membayar pengacara. Sebuah penerbitan bisa bangkrut bila tuntutan pencemaran nama baik terbukti benar. Sementara buat wartawan semacam Bondan, mundur berarti membiarkan reputasinya sebagai wartawan dipertanyakan. Jadi sama-sama sulit. Maju kena mundur kena.

Tidak ada cara lain yang bisa dilakukan seorang wartawan daripada melakukan konsultasi hukum dengan ahli hukum perdata secara benar sebelum laporannya naik cetak atau disiarkan. Editor juga banyak berperan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya gugatan pencemaran nama baik. Prinsip cover both side seringkali sangat membantu untuk menghindar dari jeratan tuntutan pencemaran nama baik.

***

Hipotesis merupakan langkah penting bagi wartawan untuk sebelum melakukan investigative reporting. Dalam investigasi Busang misalnya, Bondan Winarno mengajukan hipotesis bahwa kematian Michael de Guzman tidak wajar dan aneh. Ia juga curiga bahwa de Guzman adalah otak dari “peracunan” sample emas Busang sehingga harga-harga saham Bre-X naik berkali-kali lipat di mana de Guzman juga sangat diuntungkan. Bondan curiga bahwa mayat yang ditemukan di hutan Busang itu bukanlah mayat de Guzman. Bagaimana mungkin mayat orang yang jatuh dari ketinggian 800 kaki masih utuh?

Untuk membuktikan hipotesis tersebut, Bondan mula-mula bicara dengan dokter-dokter yang memeriksa jasad tersebut. Ia menemukan bahwa para dokter Indonesia yang mengatakan bahwa mayat itu mayat de Guzman hanya mendasarkan pengamatannya dari pakaian yang dilaporkan dikenakan oleh de Guzman. Sementara itu dari salah seorang isteri maupun teman-temannya, Bondan menemukan bahwa de Guzman memiliki gigi palsu. Sementara mayat itu tidak ada gigi palsunya.

Bondan juga terbang ke Filipina untuk mencari saudara-saudara de Guzman maupun mantan pembantu-pembantunya di Busang –Cesar M. Puspos dan Jerome Alo– yang semuanya menolak menemui Bondan. Keluarga de Guzman bahkan menolak untuk memberikan alamat dokter gigi yang biasa merawat Michael. Sementara pembantu-pembantunya seolah-olah raib tertelan bumi. Tidakkah ini indikasi bahwa ada yang aneh dengan “kematian” Michael de Guzman?

Hipotesis biasanya disusun dengan beberapa pertanyaan dasar. Pertama-tama adalah pertanyaan tentang aktor pelaku kejahatan.

“Siapa yang bertanggungjawab atas penyalahgunaan dana masyarakat tersebut? Siapa yang memicu huru-hara? Siapa yang mula-mula menyebarkan sentimen anti-etnik atau anti-agama tertentu? Siapa yang melakukan insider trading? Siapa yang mula-mula berkepentingan agar dukun-dukun santet dibunuh?”

Dalam investigasi Bondan, ia berteori bahwa kasus Bre-X itu dilakukan oleh Michael de Guzman dan anak-anak buahnya yang dari Filipina. Bukan oleh almarhum David Walsh, orang nomor satu Bre-X, maupun John Felderhof, geolog senior Bre-X yang juga atasan de Guzman. Walaupun kedua orang itu juga diuntungkan oleh ulah de Guzman, namun mereka tidak terlibat dalam skandal ini. Felderhof boleh jadi mengetahuinya namun tidak mencegahnya. Bondan mendapatkan jawaban tertulis dari Felderhof.

Selain hipotesis tentang aktor pelaku, juga perlu ditanyakan cara-cara suatu kejahatan dilakukan.

“Bagaimana penyalahgunaan itu dilakukan? Bagaimana cara sample mata bor lubang-lubang Busang dicampur dengan emas luar agar ada kesan temuannya memang besar sekali? Bagaimana cara Michael de Guzman menipu sekian banyak konsultan independen yang memperkuat hasil temuan Bre-X? Apa konsekuensi dari penyalahgunaan tersebut? Apa yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya?”

Hipotesis ini yang terus-menerus diteliti, diuji dan disimpulkan benar-tidaknya. Kalau kemudian terbukti bahwa hipotesis itu salah, seorang investigator harus dengan besar hati mengakui bahwa tidak terjadi kejahatan di sana. Kasus ditutup. Setiap investigasi memang mengandung kemungkinan bahwa hasilnya ternyata tidak sedramatis yang diperkirakan. Dan hasil yang negatif ini juga seringkali disertai dengan keputusan bahwa hasil investigasi tersebut tidak layak diteruskan.

Metode penulisan dari hasil investigative reporting pekerjaan besar ini harus didukung oleh sebuah sistem memo yang diperkenalkan oleh Bob Greene dari Newsday. Ia pada mulanya membuat sistem ini untuk keperluan investigasi di mana pengecekan data-data dibuat dengan sangat hati-hati dan menyeluruh.

Greene membagi memo dalam dua macam: “copy ready” dan “procedural.”

Memo copy ready meliputi semua fakta yang sudah diverifikasi dan bisa diatribusikan dengan jelas Memo jenis ini disusun dalam blok-blok yang kelak bisa dipakai dengan mudah dalam sebuah laporan. Memo prosedural meliputi semua fakta yang belum diverifikasi. Teori, spekulasi dan tip termasuk dalam kategori ini.

Semua memo ini disentralisasikan pada suatu lokasi yang disepakati bersama. Karena ini sudah jaman internet, memo sebaiknya dikirimkan lewat internet kepada koordinator tim bersangkutan. Ia akan mengeditnya menjadi memo ‘copy ready’ yang lebih baik dan nantinya akan menyimpannya di database. Pengiriman memo harus memenuhi jadwal yang telah ditentukan bersama. Bersama dengan datangnya memo-memo ini, koordinator tim bisa melakukan diskusi dengan anggota-anggota timnya. Kalau perlu ada perbaikan atau pengejaran hal tertentu bisa segera diputuskan. Bila semua bahan sudah lengkap dan penulisan final sudah siap dilakukan, wartawan yang bertugas menulis dengan mudah bisa memanfaatkan memo-memo tersebut.

***

Investigative reporting menekankan pada perlunya etika dan hukum.Kode etik media massa, di antaranya, memberikan beberapa jenis keterangan yang mesti diperhatikan wartawan, dan sumber-sumbernya di masyarakat luas:

· On the record. Semua pernyataan boleh langsung dikutip dengan menyertakan nama serta jabatan si sumber. Kecuali ada kesepakatan lain, semua komentar dianggap boleh dikutip.

· On background. Semua pernyataan boleh dikutip langsung, tapi tanpa menyebutkan nama si sumber. Jenis penyebutan yang digunakan si sumber harus dinegosiasikan lebih dulu. Tapi harus diingat bahwa makin kabur identitas si sumber, makin ringan juga kredibilitas laporan si wartawan. Seorang dosen di sebuah universitas lebih kabur ketimbang seorang dosen di fakultas universitas tersebut.

· On deep background. Semua pernyataan sumber boleh digunakan tapi tidak dalam kutipan langsung. Reporter menggunakan keterangan itu tanpa menyebutkan sumbernya. Umumnya, reporter tak suka kategori ini, sebab si sumber, apalagi yang sudah berpengalaman dengan media, sering memanfaatkan status ini untuk mengapungkan umpan tanpa mau mempertanggungjawabkannya.

· Off the record. Informasi yang diberikan secara off the record hanya diberikan kepada reporter dan tak boleh disebarluarkan dengan cara apa pun. Informasi itu juga tak boleh dialihkan kepada narasumber lain dengan harapan informasi itu bisa dikutip. Secara umum harus diketahui lebih dulu bahwa rencana penyampaian informasi secara off the record harus disepakati lebih dulu oleh reporter. Risiko menyetujui informasi off the record adalah si wartawan terikat untuk tak menggunakan informasi tersebut -termasuk kemungkinan bahwa informasi itu diperoleh dalam bentuk yang lain dari narasumber lain, tapi bisa menimbulkan kesan bahwa si wartawan tak menghormati kesepakatannya dengan sumber pertama- sampai ada pihak lain yang mengeluarkannya dengan nama lengkap. Kebanyakan reporter dengan sendirinya tak mau menerima informasi yang off the record.

Pemahaman etika dan hukum pers diperlukan wartawan investigasi ketika berhadapan dengan liputan-liputan yang konfidensial; yang sengaja ditutup rapat-rapat oleh pihak-pihak tertentu. Hal ini, di antaranya, menyebabkan teknik affidavit (pernyataan tertulis yang dibuat di bawah sumpah, di hadapan notaris publik) dan penyamaran dipakai dalam peliputan investigasi. Dalam upaya mencari keterangan narasumber yang kuat, investigative reporting kerap mensyaratkan informasi dari para saksi mata. Para saksi mata adalah orang-orang yang menyaksikan langsung peristiwa yang terjadi. Di Indonesia hal yang mirip ini adalah keterangan di atas surat bermaterai yang dibuat secara legal. Mereka memiliki informasi tentang fakta. Namun, keterangan mereka dianggap memiliki potensi memojokkan pihak-pihak tertentu. Untuk itulah, kesaksian mereka harus diberi perlindungan hukum dan disebut affidavit.

Keterangan ini menjadi senjata wartawan. Affidavit merupakan bahan yang dapat memperkuat berita investigasi dan dapat dimanfaatkan untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan buruk. Bahkan, bisa digunakan untuk menepis kemungkinan penyangkalan narasumber yang menyatakan bahwa dirinya telah salah kutip. Terkadang reporter terpaksa melakukan penyamaran dalam penyelidikannya. Banyak pihak menganggap bahwa penyamaran ini menempatkan wartawan tidak lebih seperti seorang pencuri informasi. Mereka tidak menghendaki para reporter mengaburkan jati dirinya sendiri. Mereka juga tidak pernah mengizinkan tipe investigasi dengan jalan semacam itu. Dan memang soal mencuri atau tidak memang jadi isu yang sulit sekali. Banyak wartawan yang berpendapat bahwa dalam investigasi, segala cara dibenarkan, termasuk mencuri data, mencuri pembicaraan orang maupun mencuri informasi. Panda Nababan, wartawan senior majalah Forum Keadilan, berada pada kubu yang membenarkan pencurian data. Nababan memakai teknik apa saja untuk mendapatkan data. Ia pernah “menipu” petugas bandara Jakarta dengan mengaku dirinya sebagai seorang pejabat tinggi militer dalam kasus pembajakan pesawat Garuda Woyla. Dalam kesempatan lain Nababan juga pernah mencuri dokumen di mobil seorang pejabat tinggi yang hendak menyerahkan dokumen itu kepada Presiden Suharto.

Perdebatan antara boleh tidaknya mencuri data ini memang sangat erat terkait dengan masalah etika dan hukum. Namun secara umum ada beberapa teknik yang biasanya dipakai seorang investigator, yaitu:

1. Riset dan reportase yang mendalam dan berjangka waktu panjang untuk membuktikan kebenaran atau kesalahan hipotesis;

2. Paper trail (pencarian jejak dokumen) yang berupa upaya pelacakan dokumen, publik maupun pribadi, untuk mencari kebenaran-kebenaran untuk mendukung hipotesis;

3. Wawancara yang mendalam dengan pihak-pihak yang terkait dengan investigasi, baik para pemain langsung maupun mereka yang bisa memberikan background terhadap topik investigasi;

4. Pemakaian metode penyelidikan polisi dan peralatan anti-kriminalitas. Metode ini termasuk melakukan penyamaran. Sedangkan alat-alat bisa termasuk kamera tersembunyi atau alat-alat komunikasi elektronik untuk merekam pembicaraan pihak-pihak yang dianggap tahu persoalan tersebut. Ini memang mirip kerja detektif;

5. Pembongkaran informasi yang tidak diketahui publik maupun informasi yang sengaja disembunyikan oleh pihak-pihak yang melakukan atau terlibat dalam kejahatan.

Investigasi memang akhirnya menjadi sebuah pekerjaan yang bukan saja makan waktu, sulit, penuh disiplin tapi juga berbahaya. Namun resiko besar ini yang tampaknya justru membuat investigasi makin diminati oleh wartawan yang suka tantangan, maupun masyarakat pembaca suratkabar, pendengar radio maupun pemirsa televisi. Kompetisi media yang makin ketat membuat kemungkinan untuk membuat investigasi makin meningkat. Namun kompetisi ini bisa jadi lunak apabila pola kepemilikan media justru didominasi kelompok-kelompok bisnis yang lebih cenderung mengejar hardnews daripada analisa dan kedalaman suatu berita. Apapun yang terjadi, investigative reporting adalah salah satu pengembangan jurnalisme yang paling memikat, paling menantang, paling mahal dan paling tinggi resikonya.

Apakah Cerita Pendek Itu?

Mengarang cerita pendek susah-susah mudah. Sebagai langkah awal, ketahuilah elemen-elemen penting dalam sebuah cerita pendek seperti yang dikemukakan pada situs Webcom.com.

1. Jenis kelamin tokoh utama: pria atau wanita

2. Pekerjaan atau profesi tokoh utama: unsur ini menjadi dasar konsep kehidupan sehari-harinya, pertimbangannya, tingkat pendapatannya, bakatnya, dan seterusnya.

3. Karakter idola: pola karakteristik yang muncul dalam kelompok kejiwaan manusia, dan terulang dengan sendirinya secara eksternal” (dari Inner Work oleh Robert A. Johnson) tipe-tipe dalam kisah boleh universal atau tidak, mulai dari Robin Hood sampai Paus.

4. Simbol atau Objek Kunci: sebilah pisau membuat Anda berpikir tentang apa? Bagaimana dengan sikat rambut? Objek-objek dalam keseharian ini dapat digunakan untuk merancang tema cerita atau menjadi kunci plot cerita.

5. Setting: waktu dan/atau tempat kisah ini berlangsung.

6. Tema: isu psikologis/spiritual/moral untuk tokoh protagonis lebih besar dari kekuatan tokoh jahatnya.

Cerita Anda tidak perlu selalu mengandung unsur-unsur ini. Cerita Anda mungkin berkembang dengan sendirinya pada bagian-bagian tertentu dan menambahkan detil-detil menarik. Atau mungkin Anda mempunyai gambaran tokoh yang lebih baik, disertai plot yang masuk akal, tetapi ingin unsur-unsur ini lebih berarti tanpa mengetahui apa yang harus Anda lakukan. Dalam beberapa kasus, unsur yang dipilih secara acak menghasilkan alur pikiran yang lebih sesuai untuk penulis, tetapi jangan ragu-ragu membuang satu atau dua unsur yang Anda anggap tidak relevan!

Sedangkan situs http://www.shortstorygroup.com memberikan keterangan mengenai karakter cerita pendek untuk memperjelas gambaran dan arah penulisan kita, yaitu sebagai berikut:

Memiliki tema yang jelas.
Tentang apa cerita ini? Pertanyaan ini mempertanyakan pesan atau pernyataan di balik kata-kata yang ada. Lakukan dengan benar dan kisah Anda akan terkenang lama dalam benak pembaca.

Cerita pendek yang efektif mencakup satu periode yang singkat.
Mungkin hanya satu kejadian dalam hidup si tokoh utama, dan kejadian itu yang menghiasi tema.

Tokohnya sedikit.
Setiap tokoh baru membawa dimensi baru pada cerita yang Anda tulis, karena itu pastikan beberapa tokoh saja cukup untuk mendukung tema yang ada.

Pastikan setiap kata berguna.
Tidak ada tempat untuk perpenjangan kalimat di dalam cerita pendek. Setiap kata yang tidak mendukung gagasan harus dibuang.


Fokus.
Cerita yang baik mengikuti satu jalur cerita. Apa topik cerita Anda? Anda harus membuat jalur yang singkat dan sempit, kalau tidak cerita Anda akan berakhir dalam bentuk awal sebuah novel atau setumpuk ide yang tidak menghasilkan apa-apa

Advertisements
Categories: Uncategorized

Scientists witness start of star’s explosive death

Scientists witness start of star’s explosive death

On Jan. 9, astronomers used a NASA X-ray satellite to spy on a star already well into its death throes, when another star in the same galaxy started to explode. The outburst was 100 billion times brighter than Earth’s sun. The scientists were able to get several ground-based telescopes to join in the early viewing and the first results were published in Thursday’s issue of the journal Nature.

“A star exploded right before my eyes,” lead author Alicia Soderberg, an astrophysics researcher at Princeton University, said Wednesday in a teleconference.

She likened it to “winning the astronomy lottery. We caught the whole thing from start-to-finish on tape.”

Another scientist, University of California at Berkeley astronomy professor Alex Filippenko, called it a “very special moment because this is the birth, in a sense, of the death of a star.”

And what a death blast it is.

“As much energy is released in one second by the death of a star as by all of the other stars you can see in the visible universe,” Filippenko said.

Less than 1 percent of the stars in the universe will die this way, in a supernova, said Filippenko, who has written a separate paper awaiting publication. Most stars, including our sun, will get stronger and then slowly fade into white dwarfs, what Filippenko likes to call “retired stars,” which produce little energy.

The first explosion of this supernova can only be seen in the X-ray wave length. It was spotted by NASA’s Swift satellite, which looks at X-rays, and happened to be focused on the right region, Soderberg said. The blast was so bright it flooded the satellite’s instrument, giving it a picture akin to “pointing your digital camera at the sun,” she said.

Soderberg said that by seeing it live in X-rays, astronomers on Earth learned of the supernova about a month before they normally would.

The chances of two simultaneous supernovae explosions so close to each other is maybe 1 in 10,000, Soderberg said. The odds of looking at them at the right time with the right telescope are, well, astronomical.

Add to that the serendipity of the Berkeley team viewing the same region with an optical light telescope. It took pictures of the star about three hours before it exploded.

This new glimpse of a supernova seems to confirm decades-old theories on how stars explode and die, not providing many surprises, scientists said. That makes the findings “a cool thing,” but not one that fundamentally changes astrophysics, said University of California, Santa Cruz astrophysicist Stan Woosley, who wasn’t part of the research.

The galaxy with the dual explosions is a run-of-the-mill cluster of stars, not too close and not too far from the Milky Way in cosmic terms, Soderberg said. The galaxy, NGC2770, is about 100 million light years away. One light year is 5.9 trillion miles.

The star that exploded was only about 10 million years old. It was the same size in diameter as the sun, but about 10 to 20 times more dense.

“The big stars live fast and die young,” said Harvard astronomy professor Robert Kirshner. “We don’t know if they leave a beautiful corpse.”

The death of this star went through stages, with the core getting heavier in successive nuclear reactions and atomic particles being shed out toward the cosmos, Filippenko said. It started out in its normal life with hydrogen being converted to helium, which is what is happening in our sun. The helium then converts to oxygen and carbon, and into heavier and heavier elements until it turns into iron.

That’s when the star core becomes so heavy it collapses in on itself, and the supernova starts with a shock wave of particles piercing through the shell of the star, which is what the Soderberg team captured on x-rays.

People at home can simulate how this shockwave works, Filippenko said.

Take a basketball and a tennis ball, get about five feet above the ground and rest the tennis ball on top of the basketball. Drop them together and the tennis ball will soar on the bounce. The basketball is the collapsing core and the tennis ball is the shockwave that was seen by astronomers, he said.

Categories: Uncategorized

New Zealand scientists thaw 1,000-pound squid corpse

New Zealand scientists thaw 1,000-pound squid corpse


WELLINGTON, New Zealand – Marine scientists in New Zealand on Tuesday were thawing the corpse of the largest squid ever caught to try to unlock the secrets of one of the ocean’s most mysterious beasts.

No one has ever seen a living, grown colossal squid in its natural deep ocean habitat, and scientists hope their examination of the 1,089-pound, 26-foot long colossal squid, set to begin Wednesday, will help determine how the creatures live. The thawing and examination are being broadcast live on the Internet.

The squid, which was caught accidentally by fishermen last year, was removed from its freezer Monday and put into a tank filled with saline solution. Ice was added to the tank Tuesday to slow the thawing process so the outer flesh wouldn’t rot, said Carol Diebel, director of natural environment at New Zealand’s national museum, Te Papa Tongarewa.

After it is thawed, scientists will examine the squid’s anatomical features, remove the stomach, beak and other mouth parts, take tissue samples for DNA analysis and determine its sex, Diebel said.

“If we get ourselves a male it will be the first reported (scientific) description of the male of the species,” Steve O’Shea, a squid expert at Auckland’s University of Technology, told National Radio. He is one of the scientists conducting the examination.

The squid is believed to be the largest specimen of the rare deep-water species Mesonychoteuthis hamiltoni, or colossal squid, ever caught, O’Shea has said.

Colossal squid, which have long been one of the most mysterious denizens of the deep ocean, can grow up to 46 feet long, descend to 6,500 feet into the ocean and are considered aggressive hunters.

At the time it was caught, O’Shea said it would make calamari rings the size of tractor tires if cut up — but they would taste like ammonia, a compound found in the animals’ flesh.

Fishermen off the coast of Antarctica accidentally netted the squid in February 2007 while catching Patagonian toothfish, which are sold under the name Chilean sea bass.

The squid was eating a hooked toothfish when it was hauled from the deep. Recognizing it as a rare find, the fishermen froze the squid on their vessel to preserve it. The national museum, Te Papa Tongarewa, later took possession of it.

The previous largest colossal squid ever found was a 660 pound female squid discovered in 2003, the first ever landed.

Researchers plan to eventually put the squid on display in a 1,800 gallon tank of formaldehyde at the museum in the capital, Wellington.

Colossal squid are found in Antarctic waters and are not related to giant squid found round the coast of New Zealand. Giant squid grow up to 39 feet long, and are not as heavy as colossal squid.

___

Categories: Uncategorized

Earth’s Hum Sounds More Mysterious Than Ever

Earth’s Hum Sounds More Mysterious Than Ever


Earth gives off a relentless hum of countless notes completely imperceptible to the human ear, like a giant, exceptionally quiet symphony, but the origin of this sound remains a mystery.

Now unexpected powerful tunes have been discovered in this hum. These new findings could shed light on the source of this enigma.

The planet emanates a constant rumble far below the limits of human hearing, even when the ground isn’t shaking from an earthquake. (It does not cause the ringing in the ear linked with tinnitus.) This sound, first discovered a decade ago, is one that only scientific instruments – seismometers – can detect. Researchers call it Earth’s hum.

Investigators suspect this murmur could originate from the churning ocean, or perhaps the roiling atmosphere. To find out more, scientists analyzed readings from an exceptionally quiet Earth-listening research station at the Black Forest Observatory in Germany, with supporting data from Japan and China.

Different types

In the past, the oscillations that researchers found made up this hum were “spheroidal” – they basically involved patches of rock moving up and down, albeit near undetectably.

Now oscillations have been discovered making up the hum that, oddly, are shaped roughly like rings. Imagine, if you will, rumbles that twist in circles in rock across the upper echelons of the planet, almost like dozens of lazy hurricanes.

Scientists had actually expected to find these kinds of oscillations, but these new ring-like waves are surprisingly about as powerful as the spheroidal ones are. The expectation was they would be relatively insignificant.

New thinking

This discovery should force researchers to significantly rethink what causes Earth’s hum. While the spheroidal oscillations might be caused by forces squeezing down on the planet – say, pressure from ocean or atmospheric waves – the twisting ring-like phenomena might be caused by forces shearing across the world’s surface, from the oceans, atmosphere or possibly even the sun.

Future investigations of this part of the hum will prove challenging, as “this is a very small signal that is hard to measure, and the excitation is probably due to multiple interactions in a complex system,” said researcher Rudolf Widmer-Schnidrig, a geoscientist at the University of Stuttgart, Germany.

Still, a better understanding of this sound will shed light on how the land, sea and air all interact, he added.

Researcher Dieter Kurrle and Widmer-Schnidrig detailed their findings March 20 in the journal Geophysical Research Letters.

Categories: Uncategorized

BAGAIMANA MEMPERBAIKI ANAK YANG SUKA MENGGANGGU

BAGAIMANA MEMPERBAIKI ANAK YANG SUKA MENGGANGGU

1. Jangan menghukum anak-anak ketika kesalahan tidak dilakukan di hadapan Anda atau tidak ada bukti yang menguatkan bahwa itu kesalahan mereka.

2. Jangan menghukum anak-anak hanya supaya sama dengan orang lain, misal Anda marah dengan ayah Anda tetapi Anda menyakiti anak laki-laki Anda. Itu merupakan hal yang tidak adil.

3. Jangan menunda hukuman ketika kesalahan diperbuat pada saat Anda melihatnya atau Anda mempunyai cukup bukti, dengan berkata “Tunggu sampai ayahmu pulang, ibu akan memberitahu ayahmu agar memukulmu”.

4. Jangan menggunakan peristiwa yang tidak berhubungan untuk menghukum anak-anak, misalnya Anda menjanjikan mereka untuk bermain. Kemudian anak-anak Anda membuat sebuah kesalahan, sehingga Anda memutuskan untuk membatalkan bermain. Membatalkan bermain diharapkan untuk menghukum anak-anak. Anda sama sekali tidak boleh melakukan cara semacam ini.

5. Jangan bersikap seperti seseorang pemenang sesudah Anda menghukum seorang anak. Anak akan percaya bahwa hukuman hanya melegakan orangtuanya. Atau hal tersebut akan memperlihatkan bahwa Anda adalah orang yang lemah. Anak tidak akan segan kepada Anda di masa depan.

6. Jangan menghukum anak-anak jika hukuman lain sudah pernah dibebankan pada mereka. Contohnya, anak-anak nakal dan jatuh. Anda marah, memukulnya, dan berkata yang tidak sopan. Itu tidak benar. Jatuh sudah mengajarkan mereka sebuah pelajaran bagaimana sakitnya. Jangan menambahkan sakit mental kepada mereka. Jika anak-anak hanya bayi yang polos, Anda sendiri yang harus berhati-hati untuk memperhatikannya.

7. Jangan menghukum anak-anak dengan memakai lidah Anda. Memaki-maki dan mengomel tidak berguna untuk anak-anak. Itu hanya akan membantu mengalihkan kebiasaan buruk kepada anak-anak. Hati-hati dengan lidah tajam Anda.

8. Sesuatu yang Anda ucapkan salah, selamanya tetap salah, misalnya, anak Anda menampar wajah Anda dan Anda menampar balik karena bersikap tidak baik. Nantinya anak itu akan menampar Anda lagi, yang kebetulan terjadi ketika Anda pada situasi yang baik sehingga Anda tertawa dan menganggap itu bercanda. Sikap Anda akan membingungkan anak dan mereka tidak tahu pasti kapan atau bagaimana yang benar atau salah.

9. Jangan menggunakan perbedaan standar antara siapa pun yang menghukum, ayah atau ibu harus memakai hukuman yang sama untuk kesalahaan yang hampir serupa.

10. Jangan memberikan hukuman tidak adil, contohnya pertengkaran antar saudara. Kakaknya dihukum lebih berat dari adiknya karena yang satu lebih kecil. Kakaknya sakit hati dan menjadi cemburu pada adiknya. Kakaknya marah dan bisa menyakiti yang adiknya kelak dan juga tidak menghormati Anda.

11. Jangan menghukum seorang anak berulang-ulang, tetapi gunakan dengan cara meyakinkan. Lakukan itu dengan sungguh-sungguh.

12. Jangan menghukum seorang anak dengan tidak benar, contohnya menunjukkan kemarahan dengan tidak berbicara kepada mereka selama tiga hari.

13. Jangan memperdebatkan soal hukuman di depan anak Anda. Jika Anda ingin berdebat, lakukan tanpa terlihat oleh mereka.

14. Jangan melakukan hukuman dengan setengah hati sebab Anda tidak ingin melakukannya sendiri, tetapi membuat suara kemarahan yang keras untuk membuat orang lain melakukannya untuk Anda. Hukuman Anda tidak akan berarti dan anak-anak tidak akan menjadi takut.

Categories: Uncategorized