Archive

Archive for January, 2009

Ribuan Warga Sipil Sri Lanka Terperangkap Peperangan

January 30, 2009 Leave a comment

KOLOMBO — Sekitar 250.000 warga sipil Sri Lanka terperangkap peperangan antara pemberontak Macan Tamil dan pemerintah. Karena itulah, Presiden Sri Lanka Mahinda Rajapaksa meminta Macan Tamil agar dalam 48 jam ke depan memberi peluang kepada warga sipil bisa memasuki kawasan aman.

Saling bantah di antara kedua pihak bertikai muncul setelah kelompok hak asasi manusia menuduh adanya upaya menjadikan para warga sipil itu sebagai tameng hidup sekaligus sandera. “Saya minta Macan Tamil membebaskan warga sipil menuju kawasan aman,” kata Rajapaksa.

Sejak 1983, gerilyawan Macan Tamil bersikukuh dengan senjata membentuk negara sendiri. Menurut kelompok itu, pemerintah cuma memberi perhatian lebih kepada mayoritas warga Sri Lanka dari suku Sinhala. Bentrokan antarkedua pihak itu sudah menewaskan 70.000 orang.

From: http://www.kompas.com

Categories: Uncategorized

Serangan Udara Israel Cederai 18 Warga Palestina

January 30, 2009 Leave a comment

GAZA — Sebanyak 18 warga Palestina, termasuk 11 anak sekolah dan seorang wanita hamil, cedera dalam serangan udara Israel di Jalur Gaza bagian selatan. Serangan itu mengenai Mohammed al-Sumeiri, seorang polisi Hamas, dan orang yang diboncengnya ketika mereka berada di atas sepeda motor yang melaju di kota Khan Yunis.

Sebelas anak sekolah dan seorang wanita hamil yang sedang lewat di jalan itu termasuk di antara mereka yang cedera. Militer Israel mengatakan telah menargetkan serangan kepada Sumeiri karena ia diduga terlibat kelompok yang bertanggung jawab atas serangan bom di dekat lintasan penyeberangan Kissufim, yang menewaskan seorang prajurit dan mencederai tiga orang.

Serangan udara itu merupakan insiden kekerasan terbaru di Jalur Gaza yang dikuasai Hamas. Gelombang kekerasaan itu mengancam keberlangsungan gencatan senjata Hamas dan Israel. Israel meninggalkan Jalur Gaza setelah daerah pesisir itu hancur akibat operasi militer selama 22 hari.

Israel menyelesaikan penarikan pasukan dari wilayah yang dikuasai Hamas itu, Rabu (21/1). Jumlah korban tewas Palestina mencapai sedikitnya 1.300 orang, termasuk lebih dari 400 anak. Sementara, 5.300 orang cedera di Gaza sejak Israel meluncurkan operasi militer terhadap Hamas pada 27 Desember tahun lalu.

From: http://www.kompas.com

Categories: Uncategorized

Hasanain, Korban Serangan Israel

January 30, 2009 Leave a comment

Ahmad Hasanain ditembak saat bermain di jalanan. Kini bocah kecil itu tergolek tak berdaya di ranjang Rumah Sakit Sifa, Gazah City. Kain putih menutup sebagian tubuh mungilnya. Di kanan-kiri ranjangnya, alat-alat kedokteran yang menjadi tumpuan hidupnya diletakkan. Dua selang besar dan kecil warna putih disambungkan ke mulutnya.

Dahi kananya ditutup perban, demikian pula tangan kanannya. Ahmad Hasanain yang baru berusia 7 tahun tidak sadarkan diri. Detak suara mesin penyambung hidup yang terdengar berirama tut-tut-tut-tut menjadi tanda bahwa kehidupan masih berpihak kepadanya.

Mata Hasanain terpejam. Rapat! Mulutnya terbuka ditembus dua selang. Kalau di dalam ”tidurnya” ia bermimpi, mungkin ia bermimpi akan nasib malang yang menimpanya. Mengapa semua itu harus terjadi. Mengapa?

”Saat itu, ia tengah bermain,” kata Majid Hasanain, ayahnya, mengenang peristiwa pada Kamis (22/1) kelabu itu. ”Ya, ia sedang bermain. Bermain di jalan. Saat itu, sekitar pukul 09.00, tiba-tiba semuanya terjadi. Sebutir peluru menerjang dahinya, masuk ke dalam kepalanya,” katanya. ”Peluru itu sampai saat ini masih ada di dalam otaknya,” sambung seorang petugas medis.

Majid Hasanain tidak tahu dari mana asal peluru itu. Orang-orang mengatakan, peluru dilepaskan oleh penembak jitu Israel. Bukankah gencatan senjata sudah diumumkan oleh Israel sejak Minggu dini hari? Namun, mengapa masih ada saja tentara yang melepaskan tembakan dan mengenai seorang bocah yang tidak tahu-menahu soal perang; bocah yang tengah menikmati masa bermainnya?

Pertanyaan itu terus dan terus diajukan oleh Majid Hasanain. Dan, ia tidak menemukan jawabnya. Ia hanya menemukan kenyataan bahwa anak yang ke-14 dari 15 anaknya kini tergolek tak berdaya, berjuang mempertahankan hidup di sebuah ruangan perawatan intensif rumah sakit yang jauh dari kampung halamannya di Sujaiyah, sekitar 1,5 kilometer dari Rafah, perbatasan Mesir-Jalur Gaza.

Apakah anaknya akan kembali? ”Semoga Allah memberikan rahmat dan berkah-Nya,” kata Majid Hasanain sambil mengangkat kedua tangannya.

Luka serius

Ahmad Hasanain adalah satu dari sekian banyak korban agresi militer dan kekejaman Israel. ”Lebih dari 200 orang dengan luka sangat serius yang kami tangani selama perang,” kata Omar El Manasra, seorang dokter yang bertugas di ruang perawatan intensif itu.

Persis di seberang ranjang Hasanain, tergolek Mohammad Garboa (40). Lelaki yang sehari-hari berprofesi sebagai nelayan itu bernasib sama dengan Hasanain. Ia ditembak tentara Israel. Peluru masuk kepalanya dan tembus hingga ke dahi. Keluar!

Lelaki berewokan ini tidur dalam kedamaian meski tidak bisa menikmati kedamaian yang sudah bertahun-tahun dicari rakyat Palestina. ”Ia tidak sadarkan diri,” kata dr Jose Rizal dari Mer-C Indonesia yang memimpin tim kemanusiaan dari Indonesia.

Kepala Mohammad Gerboa dibalut. Dua selang—satu disambungkan dengan mulut dan satunya dengan hidung—menjadi penyambung hidupnya. Dari selang itulah napas kehidupan mengalir. Matanya terpejam. Rapat!

Sebelah kiri Mohammad Gerboa, terpaut satu ranjang, terletak Said, juga tak sadarkan diri. Wajah Said terbakar karena bom yang ditebarkan Israel ketika perang masih berkecamuk. Bukan hanya wajah dan kepalanya, tangan kanannya pun terbakar.

Di ruang perawatan masih banyak korban-korban keganasan Israel selama 23 hari mengumbar angkara murka di wilayah Jalur Gaza. Terlihat, Yasser, bocah lelaki berusia 7 tahun, duduk di atas ranjangnya ditunggui kedua orangtuanya. Tangan dan kaki kanannya patah. Lagi-lagi karena bom Israel.

Ada juga Haisyam Abu Ibrahim, Abu Hassan, Hashem, Mahmud, atau Abdullah. Di antara mereka, ada yang patah tangan, patah kaki, dan ada yang kakinya harus diamputasi serta ada yang wajahnya terbakar karena bom. Semua mereka adalah warga sipil, bagian dari 5.000 lebih orang yang luka akibat ulah Israel.

Wajah dokter Omar El Manasra tidak mampu menyembunyikan kesedihan dan kemarahannya menyaksikan korban-korban agresi tentara Israel itu. ”Ketika perang masih berlangsung, kami harus kerja mati-matian karena begitu banyak pasien dengan luka sangat serius,” katanya, sementara kondisi rumah sakit saat itu kurang mendukung.

From: http://www.kompas.com

Categories: Uncategorized

Lindungi Warga Sipil Madagaskar!

January 30, 2009 Leave a comment

NEW YORK — Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Ban Ki-moon, menyerukan pemerintah Madagaskar memberikan prioritas mutlak untuk melindungi warga sipil di tengah-tengah aksi-aksi protes antipemerintah yang telah menelan korban sedikitnya 68 jiwa. “Sekjen menyerukan kepada Pemerintah Malagasi untuk memberikan prioritas utama terhadap perlindungan penduduk,” kata pernyataan kantor persnya.

“Ini terserah kepada pihak-pihak di Malagasi untuk mengatasi ketidaksepakatan mereka melalui cara-cara damai dan dialog,” katanya.

Ban, yang saat ini sedang berada di Swiss untuk menghadiri Forum Ekonomi Dunia, menyatakan prihatin mengenai ’kerusuhan serius yang menelan korban puluhan orang yang terjadi di Antananarivo dan di sekitarnya baru-baru ini.’

Dia menandaskan kembali tawaran bantuan PBB untuk melakukan proses dialog dan untuk rekonsiliasi nasional.

Pada Kamis pagi, ibu kota Madagaskar ditinggalkan pada saat penduduknya mengacuhkan seruan yang dilakukan wali kota untuk kembali ke kota yang menjelma menjadi kota hantu itu.

Wali Kota Antananarivo Andry Rajoelina menyerukan kepada penduduknya untuk memprotes keadaan ini dengan tinggal di rumah saja dan menjadikan ibu kota tersebut seperti ’kota mati’. Hal itu dilakukan saat dia mengeluarkan ultimatum kepada pemerintah untuk mengadili siapa pun orang yang berada di balik pembunuhan seorang pemrotes pada Senin lalu.

Presiden Madagaskar Marc Ravalomanana memperpendek lawatannya untuk menghadiri konferensi tingkat tinggi (KTT) kawasan di Afrika Selatan, Minggu, dan kembali ke negerinya berupaya mengatasi krisis karena situasinya semakin buruk.

Polisi mengatakan, sedikitnya 42 orang tewas selama terjadinya aksi kekerasan di ibu kota, termasuk 30 perusuh yang dihantam oleh atap yang ambruk dari satu pasar swalayan yang terbakar.

Sebanyak 26 orang lainnya tewas dalam aksi kerusuhan di beberapa kota dan wilayah lainnya di negara pulau Lautan India itu. Banyak korban yang ditemukan pada Senin dan Selasa pagi.

From: http://www.kompas.com

Categories: Uncategorized

Apa Salah Kami, Para Pelajar?

January 30, 2009 Leave a comment

Ada keceriaan yang terbaca di wajah mereka. Seakan tak tersisa ketakutan, kengerian, dan duka mencengkam mereka selama tiga pekan. Hari itu, Sabtu (24/1), adalah hari bahagia. Inilah hari pertama berjumpa lagi dengan kawan-kawan sekelas setelah sebulan meninggalkan bangku sekolah.

Tiga pekan, sejak tanggal 27 Desember 2008 hingga 17 Januari 2009, kampung halaman mereka dibombardir pesawat-pesawat dan helikopter-helikopter Israel. ”Sekolah kami dibom Israel. Hancur. Kami harus berjalan lebih jauh untuk menumpang sekolah di SMA Tel Rabie,” tutur seorang siswi di pinggiran Beit Lahiya, sekitar 12 kilometer barat laut Gaza City dan hanya 5 kilometer dari perbatasan Jalur Gaza-Israel.

Berdasarkan data tahun 2006 dari Lembaga Pusat Statistik Palestina, Beit Lahiya berpenduduk 59.540 jiwa. Warga Beit Lahiya paling sering menjadi sasaran tembakan dan pengeboman Israel yang membawa korban tewas dan luka-luka karena merupakan salah satu inti dari basis Hamas.

Di kawasan Beit Lahiya dan sekitarnya, banyak sekolah hancur. Para siswa dari beberapa sekolah digabung menjadi satu di sebuah sekolah yang luput dari gempuran Israel.

Di Beit Lahiya, banyak murid sekolah berjalan kaki di salah satu jalan di kota kecil tersebut. Salah seorang dari murid-murid itu menuturkan bahwa mereka sedang menuju ke arah salah satu gedung sekolah yang terletak di Tel Rabie yang masih utuh karena luput dari gempuran Israel.

Kompas akhirnya menemukan gedung sekolah di Tel Rabie itu, setelah mencari-cari dengan bertanya kepada beberapa penduduk di Beit Lahiya. Warga Jalur Gaza mulai bisa bernapas dan berani keluar rumah secara bebas sejak diberlakukan gencatan senjata secara sepihak oleh Israel, Minggu (18/1) mulai pukul 02.00.

Salah satu sekolah yang selamat dari kehancuran adalah SMA Tel Rabie, sekolah khusus putri, yang hanya mengalami kerusakan kecil, hanya kaca ruang perpustakaan yang pecah. ”Ini karena kena pecahan bom,” tutur Amzad (23), seorang guru muda di tempat itu.

SMA Tel Rabie, berpagar tinggi, berhalaman luas sekitar 700 meter persegi. Di halaman itulah, lebih dari 100 siswi melepas kangen, bertegur sapa, berbagai cerita tentang perang, dan berbagai duka.

Israel tak disebut

Di sebuah ruang kelas, seorang guru perempuan, Iman Umar Ilahin, tengah memberikan pelajaran geografi. Bu guru muda itu mengajukan pertanyaan kepada murid-muridnya. ”Di sebelah timur wilayah Palestina itu negara apa?” tanyanya.

Siswi-siswi yang tahu segera mengacungkan jari tangannya. ”Sebelah timur wilayah Palestina adalah Yordania,” jawab Chalidia, siswi berkacamata. ”Sebelah utara wilayah Palestina itu negara apa?” lanjut Bu Guru Iman.

Mereka kembali berebutan mengacungkan tangan. ”Sebelah utara wilayah Palestina adalah negara Lebanon,” jawab salah seorang siswi yang duduk di sebelah Chalidia.

”Sebelah selatan wilayah Palestina itu negara apa?” tanya guru itu lagi. ”Di sebelah selatan Palestina itu Mesir,” jawab siswi yang duduk dua meja di depan Chalidia.

Bu guru ingin memberi pemahaman tentang geografi. Pelajaran geografi dipandang sangat penting bagi warga Palestina karena menjadi sarana pemahaman mereka akan wilayah negerinya yang terancam eksistensinya oleh Israel. Di wilayah itulah, nantinya, berdiri Negara Palestina.

Guru itu tidak pernah menyebut negara Israel di depan murid-muridnya. Ini bagian dari cerminan sikap mereka terhadap Israel. Mereka tidak mengakui keberadaan Israel, yang dianggap sebagai penjajah, sebagai perebut tanah nenek moyang mereka.

”Israel menghancurkan rumah kami. Apa salah kami para siswa. Apa salah kami anak-anak sekolah. Mengapa gedung sekolah kami juga dihancurkan? Bukankah kami tidak bersalah?” kata Rimra Sultan (17), kelas 11 SMA.

”Alhamdulillah, keluarga kami semua selamat. Namun, ada tetangga kami yang menjadi korban, ada kawan kami yang menjadi korban. Meski demikian, kami tidak takut. Kami tidak takut perang demi kemerdekaan negara kami,” kata anak ketiga dari 11 bersaudara itu dengan semangat.

Susah membangun

Kepala SMA Tel Rabie Ahirah Andham (56) mengatakan, sekarang ini sulit membangun kembali Jalur Gaza karena semua pintu gerbang ditutup dan Israel melarang bahan-bahan bangunan, seperti semen dan besi, masuk ke Jalur Gaza.

”Pemerintah Palestina insya Allah akan membangun kembali semua infrastruktur yang hancur itu, tetapi masalahnya apakah Israel mengizinkan bahan-bahan bangunan masuk ke Jalur Gaza,” tuturnya dan mengatakan, banyak siswa yang terpaksa harus belajar di tempat darurat.

”Kalau ada gedung yang masih utuh, kita gunakan untuk menampung murid dari beberapa sekolah yang gedungnya hancur. Jika tidak ada gedung yang masih utuh, kita terpaksa menggunakan rumah penduduk yang dianggap cukup besar atau membangun tenda-tenda sementara,” katanya.

Menurut Andham, gedung sekolah di Tel Rabie kebetulan berada di tengah rumah-rumah penduduk atau di tengah kota Beit Lahiya sehingga tank-tank dan buldoser-buldoser Israel tidak mencapai gedung sekolah ini.

Kawasan pinggiran Beit Lahiya ini diduduki Israel selama tiga pekan. Bahkan, daerah Latawan dan Tsalatin diduduki secara penuh oleh Israel hingga di tengah kotanya,” paparnya.

Bukan uang

Gaji guru di sekolah SMA bervariasi tergantung posisi dan lama kerja, yakni ada yang hanya 200 dollar AS, 400 dollar AS, dan ada yang 600 dollar AS. ”Namun, bukan uang yang saya cari. Saya ingin mengabdikan diri bagi negeri kami. Saya ingin memberikan sumbangan untuk mencerdaskan anak-anak negeri ini sebagai pemilik masa depan,” tutur Iqram Umar, guru perempuan yang baru enam bulan menjadi guru selepas menempuh ilmu di Universitas Al Azhar, Gaza City.

From: http://www.kompas.com

Categories: Uncategorized

Antananarivo Jadi "Kota Hantu"

January 30, 2009 Leave a comment

ANTANANARIVO – Ibu kota Madagaskar, Antananarivo, tampak lengang dan mirip ”kota hantu”. Banyak warga kota mematuhi seruan wali kotanya, Andry Rajoelina, yang meminta agar toko-toko, sekolah, pasar, dan kegiatan bisnis lainnya dihentikan.

Kegiatan pasar mingguan praktis tidak beroperasi. Hanya sebuah lapak kecil di sekitar permukiman warga yang buka. Hanya beberapa transportasi publik yang beroperasi, melintasi jalanan yang sangat sepi. Bank dan kantor pos merupakan fasilitas publik lain yang tetap buka.

Wali Kota Antananarivo Rajoelina yang merupakan lawan politik Presiden Marc Ravalomanana hari Rabu telah menyerukan kepada warganya agar tidak keluar rumah. Rajoelina juga mengeluarkan ultimatum kepada pemerintah untuk menghukum mereka yang berada di balik pembunuhan seorang pemrotes saat terjadi aksi protes oposisi pada Senin lalu.

Otoritas Madagaskar menyebutkan, jumlah warga yang tewas akibat aksi protes yang berbuntut kerusuhan pada Senin lalu itu sedikitnya 68 orang.

Seorang pejabat Pemerintah Perancis bahkan mengatakan, lebih dari 80 orang tewas dalam beberapa hari ini. Sebelumnya, Madagaskar pernah dijajah Perancis.

Komandan polisi Antananarivo Kolonel Frederic Raqotonandrasana mengatakan, saat ini sebanyak 44 tubuh korban masih berada di kamar mayat kota itu. Sebagian besar dari mereka merupakan para penjarah yang terjebak di pusat perbelanjaan yang terbakar habis, Senin.

Seorang pejabat senior polisi menjelaskan, di Toliara, wilayah pantai di barat daya Madagaskar, 16 orang tewas. Adapun 10 orang tewas lainnya dilaporkan terjadi di beberapa wilayah di negara itu.

Tak panggil tentara

Ravalomanana yang juga mantan Wali Kota Antananarivo menyalahkan Rajoelina atas terjadinya kekerasan. ”Dialah pemimpin, pemrakarsa kekacauan ini. Prioritas bagi saya sekarang adalah mengembalikan semua yang dihancurkan,” paparnya.

Presiden negara pulau itu mengatakan memilih tidak memanggil tentara untuk memelihara ketertiban karena khawatir hal itu akan menimbulkan pertumpahan darah lebih jauh. ”Sayalah yang memerintahkan angkatan darat untuk tidak ikut campur. Situasi ini harus dikelola dengan selayaknya. Jika tidak, akan terjadi banjir darah,” tutur Ravalomanana.

Ajakan presiden kepada Wali Kota Antananarivo untuk melakukan perundingan tidak ditanggapi. Kedua pihak yang saling bertikai ini tetap bertahan di posisinya masing-masing.

Aksi protes di awal pekan itu merupakan ancaman politik terbesar terhadap Ravalomanana yang terpilih kembali sebagai presiden untuk masa jabatan kedua pada tahun 2006.

Rajoelina melakukan penentangan kepada pemerintah sejak pemilihan wali kota, Desember 2007. Hubungannya dengan presiden makin buruk bulan lalu setelah pemerintah menutup stasiun televisi milik Rajoelina karena menayangkan wawancara dengan mantan presiden Didier Ratsiraka yang juga mengkritik Ravalomanana.

From: http://www.kompas.com

Categories: Uncategorized

34 Tewas dalam Kerusuhan di Madagaskar

January 30, 2009 Leave a comment

ANTANANARIVO — Presiden Madagaskar Marc Ravalomanana, Rabu (28/1), menuduh pesaing utamanya memicu kerusuhan politik di ibu kota Antananarivo yang menewaskan paling tidak 34 orang.

Unjuk rasa anti pemerintah yang diimbau Wali Kota Andry Rajoelina berubah menjadi kerusuhan, ketika massa menjarah dan membakar gedung stasiun radio negara dan menyerbu stasiun televisi pribadi milik Ravalomanana.

Wali kota berusia 34 tahun itu, yang menyebut Ravalomanana sebagai seorang diktator, mengumumkan penghentian sementara aksi protes, tetapi deputinya mengatakan bahwa unjuk rasa-unjuk rasa akan dimulai lagi Rabu ini. Akibatnya, ratusan pendukungnya berkumpul di sebuah taman kota itu di mana Rajoelina menyelenggarakan rapat raksasa akhir pekan dan menyerukan pemogokan umum.

“Kami akan tetap untuk memulai kembali protes-protes. Kami menunggu wali kota datang ke Place du 13 Mai,” kata Andriamahazo Nirby Lanto. “Kami tidak melakukan unjuk rasa kemarin untuk menghormati mereka yang tewas dalam unjuk rasa serta untuk menjamin ketertiban,” tambahnya.

Para petugas pemadam kebakaran, Selasa kemarin, menemukan tiga mayat di reruntuhan sebuah pusat pertokoan yang dibakar. Enam mayat lagi ditemukan di sebuah gudang milik Ravalomanana. Dua pemrotes dan seorang tahanan melengkapi jumlah korban itu.

Ravalomanana, yang mantan Wali Kota Antananarivo, menyalahkan Rajoelina atas terjadinya peristiwa berdarah itu. Ravalomanana terpaksa buru-buru pulang, Minggu, dan tidak menghadiri KTT di Afrika Selatan karena ia berusaha mengatasi ancaman terbesar konflik politik terburuk Madagaskar sejak ia terpilih kembali tahun 2006.

Ia mengatakan tidak mengerahkan militer karena tindakan itu hanya akan menambah pertumpahan berdarah lebih lanjut.

Ravalomanana (59), yang pertama kali berkuasa setelah pemilu-pemilu yang disengketakan tahun 2001, menyerukan persatuan nasional dan perundingan-perundingan dengan pesaingnya yang lebih muda.

Deputi Rajoelina, Nirby Lanto, mengatakan tidak ada perundingan antara kedua orang yang berseteru itu dan menambahkan Ravalomanana “tidak dipercaya” secara nasional.

Pertikaian antara Rajoelina dan presiden itu memburuk pada bulan lalu akibat penutupan jaringan televisi penting karena menyiarkan satu wawancara dengan mantan Presiden Didier Ratsiraka. Rajoelina menjadi wali kota setelah mengalahkan kandidat dari Partai Ravalomanana sebagai calon independen dalam pemilihan kota praja tahun 2007

From: http://www.kompas.com

Categories: Uncategorized